Tuesday, December 18, 2007
Ditulis Razak Jr. pada pukul 2:47 PM
Besok insya Allah saya dan istri pulang ke Makassar , rencananya istri bakal tinggal di Makassar sampe si kecil lahir insya Allah bulan Maret nanti. Sementara saya rencana balik ke Jakarta akhir Desember atau mungkin juga awal Januari. doakan ya semoga perjalanan kami ke kampung halaman lancar-lancar saja dan tiba di tujuan dengan selamat.
 

Thursday, December 06, 2007
Ditulis Razak Jr. pada pukul 9:09 AM
Salah satu blog yang saya kelola adalah blog Tazkiyatun Nafs, blog tersebut sudah eksis sejak tahun lalu namun sampe sekarang jarang saya update. Konten blog tersebut sebenarnya tidak saya tulis sendiri namun hanya mengutip dari berbagai sumber yang berkaitan dengan tema tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Usaha tersebut insya Allah efektif, karena tiap harinya melalui logbook saya bisa melihat betapa banyak orang yang mengunjungi blog tersebut. Ternyata apabila kita memasukkan kata kunci 'tazkiyatun nafs' ke mesin pencari google, maka blog Tazkiyatun Nafs selalu tampil di urutan pertama.



Karena sudah bosan melihat tampilan lama dari blog Tazkiyatun Nafs, maka tadi malam saya mencoba mengganti tampilan blog Tazkiyatun Nafs menjadi lebih sederhana, lebih cepat diakses, dan lebih minimalis. mudah-mudahan dengan tampilan baru tersebut, pengunjung makin betah berlama-lama membaca artikel-artikel di dalamnya, dan saya pun semakin rajin mengupdate konten blog tersebut.
 

Wednesday, December 05, 2007
Ditulis Razak Jr. pada pukul 10:38 AM
Baru aja abis ngupload foto-foto ponakanku di Multiply, silahkan intip di
  1. Muhammad Ariq Fauzan
  2. Nurul Izzah Humairah
  3. Muammar Zulfiqri
  4. Muhaimin Yahya
  5. Nadya
dan foto rame-ramenya bisa diklik di SINI
 

Monday, December 03, 2007
Ditulis Razak Jr. pada pukul 10:57 AM
Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi? kalimat itu yang sering terngiang di telingaku sehingga memutuskan untuk membeli sebuah rumah sederhana di daerah Serpong. Harga properti yang sangat tinggi dan terus naik di Jabodetabek menjadi keresahan tersendiri sejak saya sadar akan menghabiskan seluruh masa pengabdianku pada negara di ibukota ini. Sadar dengan penghasilan bulanan yang tidak seberapa, saya sering bertanya pada diri sendiri, Kapan saya bisa memiliki rumah tanpa harus ngontrak sana sini? Teman-teman saya pun bilang, untuk punya rumah di Jakarta, harus nekat, harus berani mengambil resiko.


rumahku di kampung, tempatku lahir, terjual demi uang muka rumah di Serpong :(

Saya pun mengambil resiko itu, hampir seluruh tabungan habis untuk membayar seperempat dari uang muka. Selama Sepuluh Tahun kedepan, lebih dari setengah gajiku tiap bulannya harus saya relakan untuk membayar cicilan rumah itu. Saya pun harus merelakan rumah dan tanah tempatku lahir terjual untuk menutupi sisa uang muka yang belum terbayar, padahal dulu saya berangan-angan untuk menghabiskan masa tua di rumah itu. Untungnya adik ayah saya yang membeli rumah itu, sehingga tentu saja setiap saat saya bisa datang dan bernostalgia di rumah itu. bahkan terbersit pikiran untuk membeli kembali tanah dan rumah itu bila suatu saat ada rezeki, entah kapan...!

Rencananya rumah baru itu akan selesai dibangun pertengahan tahun 2008, bersamaan dengan habisnya masa kontrakan rumah di Matraman. Sengaja saya membeli rumah di daerah Serpong, karena beberapa pertimbangan, diantaranya akses yang mudah melalui jalan tol dan jalur kereta api langsung dari stasiun Tanah Abang yang dekat dari kantor, akses angkutan umum dari Ciputat juga setiap saat selalu tersedia. selain itu teman-teman sekantor pun sudah banyak yang tinggal di daerah Serpong. Alhamdulillah saya dapat tempat di daerah ketinggian yang insya Allah bebas dari banjir. Sengaja pula saya mengambil rumah di sudut dengan sedikit kelebihan tanah, pengennya buat taman bunga kecil-kecilan. Letaknya yang tetanggaan dengan masjid dan fasilitas umum lainnya membuat saya langsung jatuh cinta dengan rumah itu. Apalagi ada sebuah pesantren -yang jaraknya tidak lebih dari 100 meter-sedang dibangun di kompleks itu, hmm saya dan istri udah ga sabaran mo mengabdi di pesantren itu.

Alhamdulillah, dimana ada kemauan insya Allah di situ pasti ada jalan, kemauan yang kuat untuk memiliki rumah sendiri mampu memaksaku menempuh banyak resiko. Tapi saya ga mau terjebak dalam berbagai kekhawatiran, toh rezeki sudah ada yang mengatur. Malah saya bersyukur, karena insya Allah tepat usiaku menginjak 25 tahun nanti, saya sudah memiliki istri yang taat, anak yang lucu dan rumah untuk bernaung. Alhamdulillah, kebahagiaan dunia apa lagi yang harus saya idamkan? tiga hal itu sudah cukup bagi saya!