Ditulis Razak Jr. pada pukul 10:57 AM
Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi? kalimat itu yang sering terngiang di telingaku sehingga
memutuskan untuk
membeli sebuah
rumah sederhana di daerah
Serpong. Harga
properti yang sangat
tinggi dan terus
naik di
Jabodetabek menjadi
keresahan tersendiri sejak saya sadar akan
menghabiskan seluruh
masa pengabdianku pada negara di
ibukota ini. Sadar dengan penghasilan bulanan yang
tidak seberapa, saya sering bertanya pada diri sendiri,
Kapan saya
bisa memiliki rumah tanpa harus
ngontrak sana sini? Teman-teman saya pun bilang, untuk punya rumah di
Jakarta, harus nekat, harus berani mengambil resiko.

rumahku di kampung, tempatku lahir, terjual demi uang muka rumah di Serpong :(
Saya pun
mengambil resiko itu,
hampir seluruh tabungan
habis untuk membayar
seperempat dari
uang muka. Selama
Sepuluh Tahun kedepan, lebih dari
setengah gajiku tiap bulannya harus saya relakan untuk membayar
cicilan rumah itu. Saya pun harus merelakan
rumah dan
tanah tempatku lahir
terjual untuk menutupi
sisa uang muka yang belum terbayar, padahal dulu saya
berangan-angan untuk
menghabiskan masa tua di rumah itu. Untungnya
adik ayah saya yang membeli rumah itu, sehingga tentu saja setiap saat
saya bisa datang dan bernostalgia di rumah itu. bahkan
terbersit pikiran untuk
membeli kembali tanah dan rumah itu bila suatu saat ada rezeki,
entah kapan...!
Rencananya rumah baru itu akan selesai dibangun
pertengahan tahun
2008, bersamaan dengan habisnya masa kontrakan rumah di
Matraman. Sengaja saya membeli rumah di daerah
Serpong, karena beberapa pertimbangan, diantaranya akses yang mudah melalui
jalan tol dan jalur
kereta api langsung dari stasiun
Tanah Abang yang
dekat dari
kantor, akses angkutan umum dari
Ciputat juga setiap saat selalu tersedia. selain itu teman-teman sekantor pun sudah banyak yang tinggal di daerah
Serpong. Alhamdulillah saya dapat tempat di
daerah ketinggian yang insya Allah
bebas dari
banjir. Sengaja pula saya mengambil rumah di
sudut dengan sedikit
kelebihan tanah, pengennya buat
taman bunga kecil-kecilan. Letaknya yang tetanggaan dengan
masjid dan
fasilitas umum lainnya membuat saya langsung
jatuh cinta dengan rumah itu. Apalagi ada sebuah
pesantren -yang jaraknya tidak lebih dari 100 meter-sedang
dibangun di kompleks itu, hmm saya dan istri udah ga sabaran mo
mengabdi di pesantren itu.
Alhamdulillah, dimana
ada kemauan insya Allah di situ pasti
ada jalan, kemauan yang kuat untuk memiliki
rumah sendiri mampu memaksaku menempuh
banyak resiko. Tapi saya ga mau
terjebak dalam berbagai
kekhawatiran, toh rezeki sudah ada yang mengatur. Malah saya
bersyukur, karena insya Allah tepat usiaku menginjak
25 tahun nanti, saya sudah memiliki
istri yang taat,
anak yang lucu dan
rumah untuk bernaung. Alhamdulillah, kebahagiaan dunia apa lagi yang harus saya idamkan?
tiga hal itu
sudah cukup bagi saya!