Monday, July 23, 2007
Ditulis Razak Jr. pada pukul 3:55 PM
Belakangan ini, saya sering mual, malas-malasan, lesu, uring-uringan, dll... pokoknya gejalanya seperti orang hamil yang lagi ngidam... of course bukan saya yang hamil, tapi ketularan dari istri saya yang lagi hamil...
Ada yang bilang, "ngidam" yang saya alami tuh cuma sugesti aja... setelah saya cari tahu lewat mbah google, akhirnya saya nemu juga referensi yang bisa menjelaskan secara ilmiah fenomena ngidam pada suami. Berikut ulasannya...
Sebagaimana yang terjadi pada calon ibu, tidak setiap calon bapak mengalami masa ngidam. Bisa saja pada kehamilan pertama isterinya seorang suami mengalami ngidam, tetapi pada kali lain tidak. Gejala ngidam tanpa diobati akan hilang sendiri. Biasanya begitu kehamilan isterinya mencapai trimester kedua atau ketika sang jabang bayi lahir.

Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa persentase suami yang ngidam cukup tinggi. Ada yang mengatakan sedikitnya 20 persen dari suami-suami yang isterinya sedang hamil mengalami fenomena ngidam, bahkan ada yang mengatakan sampai 80 persen. Entah mana yang benar, yang jelas di Indonesia setahu saya belum ada data yang cukup akurat tentang suami ngidam ini.

Fenomena 'suami ngidam' ini lazim disebut couvade syndrome, atau disebut juga sympathetic pregnancy. Fenomena ini sampai sekarang memang masih dianggap sesuatu yang agak misterius. Mungkin karena tidak terlalu banyak ahli yang menganggap ini sesuatu yang cukup penting dan cukup menarik untuk diteliti. Sehingga, informasi ilmiah yang akurat tentang hal ini memang masih kurang.

Definisi atau batasan couvade pun tidak begitu jelas, antara lain dipengaruhi oleh persepsi budaya suatu kelompok masyarakat atau bahkan definisi ini dapat berbeda dari orang per orang dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Buktinya, pada suatu penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat pada suatu kelompok masyarakat tertentu, persepsi seorang suami dapat berbeda dengan isterinya sendiri tentang couvade ini.

Sering terjadi seorang isteri menganggap suaminya mengalami couvade atau ngidam, tetapi ketika ditanyakan kepada suaminya ia justru merasa tidak ngidam. Mungkin memang sang suami tidak menyadari bahwa ia mengalami perubahan emosi dan kondisi tubuh, mungkin juga ia malu untuk mengakui. Maklum banyak orang yang beranggapan seorang laki-laki tidak pantas untuk terlihat lemah, ia harus dapat selalu tampak kuat, apa pun yang terjadi di dalam hati dan tubuhnya.

Namun, di luar masalah definisi ini, beberapa ahli mencoba memberikan landasan ilmiah tentang couvade. Tentu saja ini berdasarkan teori-teori baku yang ada. Fenomena ngidam ini merupakan suatu fenomena psikosomatis. Artinya gejala yang dialami tubuh (secara fisik) yang disebabkan oleh dorongan psikis.

Psikosomatis berasal dari kata psiko = psikis dan somatik = tubuh. Hampir semua fenomena psikosomatik melibatkan terjadinya perubahan hormonal. Para ahli pun sepakat bahwa fenomena suami ngidam ini pun melibatkan perubahan hormonal di dalam tubuh sang calon bapak.

Ada beberapa teori yang sering diajukan para ahli tentang couvade syndrome ini. Yang pertama, dikatakan bahwa seorang suami secara psikologis mempunyai perasaan sebagai seseorang pelindung, yang merasa wajib melindungi, mengayomi dan menanggung beban terbesar dalam keluarga.

Ketika sang isteri hamil, dengan segala keluhan yang menyertainya, dalam diri suami ada dorongan untuk mengurangi beban isteri, berbagi ''penderitaan'' dengan isteri. Namun, karena tidak dapat melakukannya, maka tanpa disadari dalam otak suami terjadi suatu proses unik yang mendorong terjadinya perubahan hormonal.

Perubahan kadar hormon dalam darah inilah yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala ngidam, seperti pusing, mual, muntah, tidak enak badan, perut kembung, insomnia (sukar tidur), uring-uringan, malas, dan lain sebagainya, sampai ikut-ikutan kepingin makanan tertentu yang kadang aneh-aneh.

Sebagai informasi, keadaan hormonal kita secara ilmiah memang sangat dipengaruhi oleh perasaan atau emosi. Emosi akan ditangkap sebagai impuls oleh sel-sel syaraf di susunan syaraf pusat kita, dan kemudian akan ditransmisikan sampai ke bagian otak yang memproduksi dan mengeluarkan hormon. Hormon inilah yang kemudian akan memicu reaksi berantai yang akan mempengaruhi metabolisme di dalam tubuh.

Teori lain mengatakan bahwa timbulnya proses unik di otak yang mendorong terjadinya perubahan hormonal ini karena sang calon bapak merasa cemburu, merasa tidak diperhatikan, sehingga tanpa disadari timbul impuls sebagaimana yang tadi diuraikan. Ini merupakan bentuk ''cari perhatian'' atau dapat juga merupakan bentuk ''pengumuman'' kepada dunia bahwa ia seorang calon bapak.

Perubahan hormonal pada seorang calon bapak memang secara ilmiah sudah dibuktikan terjadi. Perubahan hormonal yang drastis dapat terjadi pada calon-calon bapak yang keterikatannya atau komitmennya dalam keluarga cukup besar, atau yang hubungan emosinya dengan sang isteri sangat besar. Namun, ini pun masih dipengaruhi oleh sangat banyak faktor lain, misalnya persepsi sosial-budaya, umur, dan kondisi fisik.

Suatu hasil penelitian yang menarik mengungkapkan bahwa pada suami yang sedang ngidam, kadar hormon estradiol (atau estrogen) dalam tubuhnya meningkat sejalan dengan meningkatnya gejala ngidam. Estradiol adalah hormon seks perempuan yang dalam kadar sedikit juga dimiliki oleh laki-laki. Sebaliknya kadar hormon testosteron, hormon seks laki-laki, justru menurun cukup tajam pada calon bapak yang mengalami couvade syndrome.

Yang juga menarik, kadar hormon prolaktin, suatu hormon yang diproduksi oleh tubuh ibu pada saat hamil dan menyusui, juga dapat meningkat dalam darah seorang calon bapak. Para ahli menduga bahwa meningkatnya kadar prolaktin inilah yang menyebabkan seorang calon bapak biasanya menjadi lebih lembut, lebih telaten, dan lebih perhatian kepada anak-anak dalam masa menanti kelahiran sang buah hati, walaupun, misalnya, selama ini ia belum mempunyai anak.

Apa yang dikemukakan ini hanya merupakan teori yang coba direka oleh para ahli untuk menjelaskan fenomena couvade atau suami ngidam. Tepat atau tidaknya, wallahu alam. Yang jelas, couvade atau sympathetic pregnancy atau suami ngidam bukan merupakan sesuatu yang abnormal, walaupun mungkin saja merupakan ekspresi dari kemanjaan suami.
Sumber :
Konsultasi Kesehatan dan Kefarmasian Harian Republika
Diasuh oleh Indonesian Pharmaceutical Watch (IPhW)
Koordinator Pengasuh : DR. Ernawati Sinaga, MS, Apt
Alamat Surat: Harian Umum Republika, Jl. Warung Buncit Raya No. 37, Jakarta 12510
email : medika@republika.co.id, faksimili: (021) 7983623

referensi terkait:
http://www.kompas.com/wanita/news/0511/16/132720.htm
 

Thursday, July 12, 2007
Ditulis Razak Jr. pada pukul 8:24 AM
Karena "tamu" yang saban bulan mengunjungi istriku udah telat beberapa hari, untuk mengusir penasaran, tadi malam saya dan Thia pun nyari strip uji kehamilan di apotik terdekat... tadi subuh, begitu saya melek dari mimpi, Thia langsung nunjukin hasil testnya.. dan hasilnya... eng ing eeeeennggg...!!!! alhamdulillah POSITIF... sesuai petunjuk pada kemasan strip tersebut, kalo yang nongol dua garis merah artinya positif hamil... kalo cuman segaris sih tidak hamil... hmm sekali lagi alhamdulillah... segala puji bagi Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan kepercayaan mengemban amanah menjadi calon orang tua... hmm serasa mimpi kalo saya sudah menjadi calon Ayah... tokcer juga ya, padahal nikahnya baru sebulan yang lalu... hehehehe...!!


dua garis merah tandanya POSITIF

Tapi blum ngasih tau keluarga sih, pengennya besok ngecek dulu ke dokter kandungan untuk memastikan bener tidaknya... sekali lagi mohon doanya semoga Thia sehat-sehat saja selama mengandung anak kami...

UPDATED INFO, 12-07-2007 / 14.32 WIB

Barusan saya ngantar Thia ke Rumah Sakit Bersalin Budi Kemulyaan yang ga jauh dari kantor, karena udah penasaran gitu... tadi udah di USG, umur kehamilan 5 minggu, karena ternyata usia kehamilan dihitung sejak hari pertama periode terakhir datang bulan... Thia kedatangan tamu terakhirnya mulai tanggal 4 juni kemaren, berarti sekarang usia kandungan sudah 5 minggu 3 hari... hehehehe, tadi kirain dokternya salah hitung, secara saya dan Thia baru 4 minggu menikah... dari hasil USG terlihat di rahim Thia ada sedikit pendarahan, kata dokternya sih ga apa-apa, cuman karena usia kandungan baru 5 minggu, dokter nyaranin agar lebih hati-hati/pelan-pelan aja kalo lagi "tiiiiiiiitttt".... nanti kalo udah masuk 10 minggu baru bisa anarkis lagi :D
Insya Allah bulan depan baru kontrol lagi ke RSB Budi Kemulyaan. doain ya semoga Thia dan janin yang dikandungnya selalu sehat dan berada dalam lindungan-Nya... Amin
 

Monday, July 09, 2007
Ditulis Razak Jr. pada pukul 5:46 PM
Bahkan untuk posting sudah ga ada waktu lagi... Gimana mo blogwalking atawa balas komen/SB..?? Fiuhh...!!!!

Mohon doanya ya... semoga saya dan Thia bisa cepet punya momongan...

itu aja deh... kerjaan nunggu...

WHAT A HECTIC WEEK...!!!