Sebagaimana karya-karya Kang Abik terdahulu, karyanya kali ini juga sarat dengan hikmah yang dapat dipetik oleh pembacanya. Kutipan-kutipan ayat, hadits, mahfudzat, kisah sahabat bahkan kaidah ushul fiqhi memang menjadi kekayaan dari tulisan Kang Abik. Karakter yang dilakonkan para tokoh di novel tersebut, memang sudah jadi barang langka di kalangan remaja dan pemuda masa kini, namun melahirkan kerinduan bagi pembaca untuk dapat memiliki karakter-karakter tersebut.. karakter yang mencintai ilmu, yang menjunjung tinggi kesucian diri, jiwa dan cinta, serta karakter paripurna yang mencontohkan sikap tauladan dalam menghadapi problema asmara yang sudah pasti selalu mendera semua pemuda-pemudi yang memiliki cinta di hatinya...

Kepiawaian Kang Abik dalam menjelaskan keindahan tiap detil sudut kota-kota dalam novel tersebut juga menumbuhkan kerinduan pada negeri seribu menara tersebut. Kadang timbul penyesalan, mengapa dulu tekad baja untuk menuntut ilmu di Universitas al-Azhar tidak terealisasi.. hmm tapi gpp deh... mungkin saya juga tidak terlalu tangguh untuk merantau ke Mesir... :)
Dua jempol naik deh buat Kang Abik, tokoh Abdullah Khairul Azzam dalam novelnya ini lagi-lagi menjadi inspirasi banyak orang sebagaimana tokoh lain pada novel-novelnya yang terdahulu. kali ini Kang Abik mampu merombak standar keberhasilan seorang mahasiswa yang selama ini sering dinilai dari sisi prestasi akademis saja. menurut saya, tokoh Azzam yang lebih fokus pada bisnis bakso dan tempenya untuk bisa survive di Mesir dan mampu memberi nafkah pada keluarganya di Indonesia adalah keberhasilan sejati.
Ada kisah dalam novel ini yang rada-rada mirip dengan kisah yang pernah kualami sendiri. Alhamdulillah novel ini juga mampu memberi solusi dan memantapkan hati akan keputusan yang harus saya ambil... sekali lagi terima kasih Kang Abik...!!


















