Wednesday, November 06, 2013
Ditulis abusyauqi pada pukul 12:06 PM

Awal april tahun depan, genap 8 tahun saya kerja di Ristek. Menurut aturan kepegawaian, karena saya udah kerja lebih dari 6 tahun, saya berhak mendapatkan cuti besar selama maksimal 3 bulan.

Sejujurnya saya butuh cuti panjang saat ini. Tesis yg mulai saya garap bulan maret silam blum ada tanda-tanda selesai, sementara sudah lebih dari separuh rekan seangkatan sudah wisuda akhir agustus yang kemarin. Sebenarnya tidak begitu sulit menyelesaikan tesis ini, namun menjadi sulit ketika setiap pagi saya harus bekerja di kantor dan malamnya tenaga saya sudah habis untuk sekedar mengintip tesis saya.

Rencananya saya mau minta cuti mulai senin depan sampai pertengahan februari tahun depan. Rencananya selama cuti saya akan banyak menghabiskan waktu saya di Pusat Diseminasi Iptek Nuklir BATAN untuk mewawancarai para narasumber tesis saya d sana. Beres di BATAN, saya berencana melakukan survei di kabupaten bangka barat untuk mencari tau sejauh mana efektivitas program sosialisasi PLTN yg dilakukan BATAN di sana.

Bila penelitian saya sudah di-ACC oleh dosen pembimbing saya, makan saya akan maju sidang tesis paling lambat 16 Januari dan wisuda pada bulan Februari dgn catatan tesis saya sudah selesai perbaikan. Bismillah. Tidak boleh menunda lagi. Tidak boleh malas-malasan lagi, karena cepat atau lambat tahap ini memang harus dilalui.

 

Monday, August 12, 2013
Ditulis abusyauqi pada pukul 7:40 PM
Alhamdulillah sudah sampai lagi di Jakarta, setelah 11 hari mudik lebaran ke Makassar. Libur sebenarnya dah selesai kemarin, tapi tiket Merpati yg sudah saya pesan sejak awal tahun jadwalnya dimundurin sehari. Begitu juga saat berangkat, jadwalnya dimajukan sehari oleh Merpati. Alasannya tidak ada penerbangan pada tgl 2 dan 11 Agustus. ya kalau emang ga ada penerbangan pada hari tersebut, ya kenapa dong tiket gw bisa diissued? Hehehe tp gpplah, dengan begini waktu berkumpul dengan keluarga di Makassar lebih banyak walau harus ga ngantor dua hari dan tunjangan kena potong 10 persen.
Selama di Makassar, waktu saya manfaatkan untuk silaturrahim dengan kerabat dan sahabat. Naik gunung ke Malaka menjenguk nenek, ke rumah Abba Thahir di Pettarani, menjenguk Kartina yg abis lahiran, ziarah kubur kakek, nenek dan Abba, hingga wisata kuliner mie titi di outlet barunya yang baru dan besar di daerah Bumi Tamalanrea Permai.     
Muter-muter di Makassar tuh rasanya sama aja kek muter2 Serpong, kemana-mana deket. Dari rumah ke Pasar Terong rasanya sama aja kek dari rumah Serpong ke Pasar Modern BSD, dari rumah ke Mal Panakkukang rasanya seperti dari rumah Serpong ke BSD Plaza. Rasanya pengen kembali tinggal dan kerja di Makassar aja. Ga enak rasanya merantau, tinggal di kota besar, tapi jauh dari keluarga besar.
Uqi bilang "Abi, janganmi ke Jakarta nah, enak tinggal di Makassar". Saat mau boarding Uqi bertanya lagi, "Abi, hari apaki pulang ke Makassar lagi?", dengan lesu kujawab, "bukan hari nak.. tapi insya Allah tahun depanpi lagi kalau lebaran, itupun kalo adaji uang untuk beli tiket",  Kodong...
#galau #homesick #rindumama
 

Tuesday, July 23, 2013
Ditulis Abu Syauqi pada pukul 12:17 PM
Sebelum pindah ke Bagian Humas dan Protokol tiga tahun lalu, saya mengurus beberapa kerjasama iptek bilateral dengan beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, seperti Jerman, Belanda, Austria, Iran, dan lain-lain. Khusus untuk Iran, saya mulai terlibat sejak drafting MoU hingga mempersiapkan pertemuan bilateralnya, pun terlibat mengatur kunjungan pejabat-pejabat dari Kementerian Sains, Riset dan Teknologi Iran ke Indonesia pada tahun 2006 dan 2009 silam. terlepas dari perbedaan saya Sunni dan mereka Syiah, selalu saja ada hal-hal berkesan yg saya bisa pelajari dari mereka. 

Yang pertama saat Menristek Iran, Mohammad Mehdi Zahedi, berkunjung ke Indonesia tahun 2006 silam. Beberapa jam sebelum beliau bertolak kembali ke Iran, kami yang mendampingi beliau kunjungan di Indonesia, mulai dari staf, driver sampai patwal dipanggil ke kediaman Dubes Iran, dan diberikan suvenir langsung dari beliau. Pak Menristek Iran juga merangkul dan cupika cupiki dgn kami semua. Polisi Patwal dari Polda Metro Jaya mengaku terharu dan terkesan dengan keramah-tamahan beliau. Kami memang sering mendampingi tamu pejabat asing, namun sangat jarang diperlakukan seperti seorang "sahabat" oleh tamu selevel menteri. 

Kesan yang kedua saya dapat tadi pagi saat Menristek menerima kunjungan Dubes Iran, Mahmoud Farazandeh dan 7 orang anggota delegasi JCM Iptek dari Iran. Dubes Iran menjelaskan tentang kemajuan Iran di bidang nanoteknologi. Yang menarik adalah pernyataan beliau bahwa capaian dan kemajuan Iran di bidang iptek bagaikan harta benda yang harus dikeluarkan zakatnya. Oleh karena itu, dengan alasan syariah, Iran akan berbagi pengetahuan dan teknologi yg mereka miliki dengan Indonesia. Bagi Iran, hukumnya wajib.       

Iran memang negara dengan bentuk Republik Islam. Sekali lagi terlepas dari mereka Syiah dan saya Sunni, saya terkesan dengan sikap mereka menyandarkan semua urusan pada nilai-nilai syariah.
 

Monday, July 08, 2013
Ditulis Abu Syauqi pada pukul 7:47 AM
Alhamdulillah, Ramadhan yang dinanti telah datang, bulan penuh ampunan dan ganjaran amal dilipatgandakan. Bulan penuh berkah penuh rahmah. Momen terbaik untuk mengupgrade kapasitas iman dan taqwa kita. 

Insya Allah, tahun ini masih diberi rizki untuk mudik ke Makassar. Tiket pesawat sudah di tangan sejak awal tahun. Rencananya pulang tanggal 1 Agustus mendatang. Sudah banyak rencana untuk dilakukan ketika mudik nanti. Tak sabar rasanya menanti. 

Ini Ramadhan ketiga tanpa Abba, beliau meninggal 2 tahun lalu seminggu sebelum Ramadhan.  Tanggal 24 Juli besok tepat 2 tahun Abba menghadap sang Khalik. Rasa rindu ke Abba selalu menyergap, 2 hari yang lalu saya mimpi melihat Abba dengan gaya khasnya, memakai kopiah, sarung dan baju koko menyetir mobil mengantar Uqi dan Lana pulang. Entah dari mana, namanya jg mimpi.

Menjelang Ramadhan seperti ini, teringat lagi 22 tahun lalu, ketika Abba mengajak saya ke mercusuar di Bulukumba untuk melihat hilal. sebagai seorang qadi, salah satu tugas Abba ya urusan hisab dan ru'yat. Mmmh, rasanya masa kecil yg kuhabiskan dengan Abba ga terlalu banyak. Kenangan ke mercusuar itu termasuk yang masih bisa kuingat sampai sekarang.  

Allahumaghfirly.. Wa liwalidayya... Warhamhuma... Warhamhuma.. Warhamhuma... Kamaa rabbayaniy shagiiraa...
 

Thursday, June 27, 2013
Ditulis Abu Syauqi pada pukul 4:57 PM
Abis sholat magrib, dapat bbm dari sepupu di Makassar yg ngasi kabar kalo sepupuku (Kak Ulla) yang tinggal di Pamulang, mengalami kecelakaan lalu lintas. Kabar itu cukup mengagetkan karena katanya Kak Ulla dalam kondisi kritis dan belum sadar. Saya pun menghubungi Nomor handphone Kak Ulla dan diangkat oleh Dani. Saya mulai tenang saat Dani bilang Kak Ulla sudah sadar dan sedang CT Scan di RS. Sari Asih Ciputat. 

Saat menuju RS Sari Asih, saya berpapasan dengan ambulance yg mengangkut Kak Ulla ke RSUD Tangerang Selatan. Saya pun banting setir ke RSUD Tangerang Selatan dan langsung menuju ruang UGD yang terdapat di Gedung 1. Di ruangan tersebut suasana sangat ramai, dan Kak Ulla masih belum mendapat tindakan lanjutan. Dokter jaga meminta pengertian keluarga pasien karena jumlah tenaga medis yang bertugas malam itu tidak seimbang dengan jumlah pasien. Pasien menumpuk di UGD karena ruang perawatan semuanya penuh. Walau RSUD ini terbilang baru dan besar, namun tidak dapat menampung semua pasien rujukan. Gedung 2 dan Gedung 3 juga masih dalam proses pembangunan.   

Dari hasil CT Scan Kak Ulla, disebutkan bahwa tidak tampak fraktur/pendarahan intrakranial, namun terdapat pendarahan sinuses maksilaris -ethmoidalis (cavum nasi) dan  Fraktur dinding sinus maksilaris, orbita dan cavum nasi bilateral. Dokter juga bilang  terdapat hematoma jaringan lunak orbita-infraorbita bilateral dan Emfisema subkutis infraorbita kiri. Selain luka-luka di area kepala, tangan kanan juga mengalami patah dan harus dibedah untuk memasang plat. 

Saya menghubungi salah satu penumpang mobil Carry yang bertabrakan dengan motor kak Ulla. Menurut info dari Ibu tersebut, Kak Ulla waktu kecelakaan terjadi berupaya menyalip kendaraan di depannya tanpa menyadari ada kendaraan lain dari depan. Benturan keras menyebabkan Kak Ulla tidak sadar sampai tiba di rumah sakit.

Karena adanya musibah ini, keluarga yang berdomisili di Serpong  berkumpul di RSUD menjaga Kak Ulla sambil menunggu istrinya datang dari Balikpapan. Lucunya kami malah dapat info musibah ini bukan dari polisi atau RS setempat tapi dari rumah masing-masing di daerah. Saya dapat info dari Makassar, Dani dapat info dari Balikpapan dan Iccang dapat info dari Sinjai. Salah satu hikmahnya berkumpul di RSUD mungkin untuk menyambung silaturrahim. Walaupun kami tinggal di kawasan yang sama di sekitar Puspiptek, namun sangat jarang sekali saya bisa bertemu dengan sepupu dan ponakan saya itu.

Hikmah kedua, jadi makin nyadar untuk lebih berhati-hati dalam berkendara. Salah perhitungan dan ugal-ugalan bisa berdampak celaka yang cukup parah. Yang namanya musibah, tidak bisa kita prediksi datangnya. Mungkin kita sudah berhati-hati dan mematuhi peraturan lalu lintas, namun perilaku ugal-ugalan orang lain juga dapat membuat kita celaka. Sebaiknya kita memang selalu bermunajat kepada Allah untuk menjauhkan segala bentuk musibah dan celaka pada diri kita. La haula wala quwwata illa billah...
 

Friday, June 21, 2013
Ditulis Abu Syauqi pada pukul 7:32 AM
Pertengahan tahun 2010, saya pindah unit kerja dari bagian kerjasama internasional ke bagian Hubungan Masyarakat. Di tempat yang baru, salah satu tugas utama saya adalah meliput kegiatan-kegiatan Kementerian dan dimuat di website. 

Waktu itu saya merasa, tidak banyak orang yang membaca berita yang saya buat, karena yang orang yang niat berkunjung ke website ristek biasanya memang mencari informasi yang spesifik, bukan sekedar membaca-baca berita yang ada. Saya mulai berfikir untuk membuat feeding baik itu dengan RSS atau cara lain, untuk meningkatkan traffic pembaca berita di website ristek. 

Saya akhirnya memilih untuk membuat akun Facebook Page dan Twitter untuk Kementerian. Setiap berita baru yang tayang di website Ristek, saya share melalui Facebook yang paralel dengan twitter. Awalnya kedua akun tersebut saya promosikan kepada teman-teman yang sudah connected dengan saya di kedua socmed tersebut. Alhamdulillah dalam waktu sebulan, fans dan followernya sudah ratusan orang. 

Nama URL facebook dan akun twitternya "ristekgaul", sebenarnya pengennya pake nama akun "ristek" aja, tapi ternyata akun tersebut sudah tidak available lg di twitter. Akhirnya saya pilih nama akun "@ristekgaul", mengikuti nama grup milis internal pegawai Ristek. Nama milis ini sendiri sudah ada sejak Menristek masih dijabat pak Kusmayanto Kadiman (KK). Konon pak KK sendirilah yang memberikan nama "ristekgaul" tersebut.

Pada tahun 2011, mulailah kedua akun tersebut dipromosikan. Awalnya melalui banner di website, dan kemudian berlanjut ke seluruh jenis publikasi di media massa, mulai dari display di majalah, poster, hingga billboard. Bahkan dalam beberapa program tayangan Ristek di televisi, nama akun FB dan twiiter "@ristekgaul" dipromosikan melalui runningtext.   

Sejak itu jumlah fans dan followers "@ristekgaul" kian meningkat. Kami kadang kewalahan untuk merespon komentar dan pertanyaan melalui FB dan twitter tersebut. Di FB, pada umumnya mengomentari foto dan berita yang kita share. Ada juga yang bertanya tentang beasiswa, info magang, sampai penerimaan cpns. Tidak sedikit juga yang mempromosikan hasil karya inovasi yang mereka buat dan meminta insentif untuk mengembangkannya lebih lanjut. 
   
Sedangkan di twitter, kebanyakan followers "@ristekgaul" meretweet berita dan informasi yang mereka anggap menarik. Tidak sedikit juga followers yang mention kita karena merasa geli dan protes dengan nama akun "@ristekgaul". Ada yg bilang alay-lah, absurdlah, Gejelah, hehehehe. Bagi saya yang penting informasi yang kami sampaikan melalui kedua akun tersebut bermanfaat bagi pembacanya. Bahkan nama akun "ristekgaul", juga saya jadikan nama channel video-video Ristek di Youtube. So, buat yang belum follow kita, silahkan klik
www.facebook.com/ristekgaul
www.twitter.com/ristekgaul
www.youtube.com/ristekgaul

Semangat pagi :)
 

Thursday, June 20, 2013
Ditulis Abu Syauqi pada pukul 6:36 AM
Ngomongin soal pakaian seragam, saya sepertinya termasuk orang yang paling malas menggunakannya. Waktu SMA, saya lebih suka memakai baju koko dan celana panjang kain hitam dibandingkan pakai seragam kemeja putih dan celana abu-abu. Saya mulai tertib memakai pakaian seragam waktu kerja di salah satu dealer mobil Honda di Makassar, yang mewajibkan semua karyawannya (selain sales) untuk menggunakan baju seragam bengkel. Sewaktu kerja di Sosro, pakaian seragam saya baru ada seminggu sebelum saya resign. Sebelumnya saya lebih banyak menggunakan kaos yang ada gambar teh botol sosronya, hehehehe....

Hijrah ke Jakarta, walaupun bekerja di kantor pemerintah, alhamdulillah tidak ada seragam khusus untuk pegawai. sehari-hari cukup memakai kemeja polos atau bermotif, dan di hari-hari tertentu memakai batik. Tidak ada keharusan menggunakan seragam LINMAS lah, KORPRI lah, atau seragam khusus lembaga. Jadi orang lain tidak dengan mudah mengenali tempat dimana saya bekerja tanpa bertanya terlebih dahulu. 

Namun kemarin, Biro Umum di kantor mengadakan rapat membahas peraturan terkait seragam untuk karyawan. Rencananya seragam untuk karyawan laki-laki adalah kemeja berwarna putih, dan ada logo Ristek di dada bagian kanan. Untuk celana panjang diwajibkan berwarna hitam, juga untuk sepatu dan kaos kaki.

Kalau memang nanti peraturan tersebut diberlakukan, mau tidak mau ya saya harus ikut. Saya cuman concern dgn warna seragam yang berwarna putih karena mobilitas yang tinggi di lapangan, memungkinkan seragam lebih cepat terlihat kotor. Terkait pemasangan logo kantor di seragam, saya sih setuju aja, bisa meningkatkan rasa memiliki dan rasa bangga mengabdi. Tapi konsekuensinya, ga boleh bertingkah yang aneh-aneh saat memakai seragam tersebut, karena nama baik lembaga yang menjadi taruhannya. Semangat pagi...

 

Wednesday, June 19, 2013
Ditulis Abu Syauqi pada pukul 7:42 AM
Tidak perlu diperdebatkan lagi, berbakti kepada orang tua atau birrul walidain merupakan salah satu kewajiban yang paling utama, sebagaimana Allah berfirman dalam surah Al-Israa, ayat 23 : "Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya, dan hendaklah kalian berbakti kepada kedia orang tua".

Dan masih banyak lagi dalil lainnya baik itu firman Allah maupun sabda Rasulullah terkait hal berbakti kepada kedua orang tua. Dalam salah satu sabda beliau, Rasulullah menyebutkan bahwa berbuat kepada kedua orang tua adalah jihad. Di banyak riwayat lain mengatakan bahwa taat dan berbakti kepada orang tua dapat membantu meraih pengampunan dosa, membantu menolak musibah, memperluas rizki, dan salah satu penyebab masuk surga. Sebaliknya durhaka pada orang tua, merupakan dosa yang sangat besar, dan diancam mendapat balasan yang 'cepat', baik di dunia maupun di akhirat.

Dalam surah Luqmaan ayat 15, Allah SWT berfirman : "Kalau mereka berupaya mengajakmu berbuat kemusyrikan yang jelas-jelas tidak ada pengetahuanmu tentang hal itu, jangan turuti; namun perlakukanlah keduanya secara baik di dunia ini". Dari ayat di atas, bisa ditarik dua kesimpulan, yang pertama bahwa kita tetap dituntut memperlakukan kedua orang tua kita dengan baik, walaupun mereka dalam keadaan kafir. Yang kedua, bahwa dilarang menuruti perintah orang tua dalam hal berbuat maksiat dan kesyirikan. Hal ini dipertegas Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yaitu: "Tidak ada ketaatan dalam melakukan maksiat. Sesungguhnya ketaatan hanya dalam melakukan kewajiban". 
 
Dari tulisan di atas, saya ingin mengingatkan diri sendiri dan juga rekan-rekan khususnya PNS, perintah untuk patuh dan taat kepada  orang tua bisa gugur kalau dalam perkara maksiat dan dosa, apalagi kalau cuman  taat kepada atasan struktural. udah jelas-jelas ga ada di dalam alqur'an dan  hadits. Misalnya diperintah untuk menyalahgunakan anggaran, korupsi, atau nyetor ke atasan, kita harus berani menjawab tidak, dan menambahkan kalimat ini, "eh ngaca dong, emangnya elu emak/bokap guwe apah, merintah2 gw, emak/bokap gw nyuruh korupsi aja gw ga mau nurut, apalagi situh...." Hahahah, semangat pagi dan tetap istiqomah.. Aamiin...
 

Thursday, June 13, 2013
Ditulis abusyauqi pada pukul 6:55 PM
Alhamdulillah, awal Maret lalu dapat kesempatan berkunjung ke Eropa lagi, kali ini ke Belgia dan Luxembourg. Kunjungan ini sangat berbeda dengan kunjungan-kunjungan sebelumnya, karena kali ini saya mendampingi Bapak Menristek, Gusti Muhammad Hatta, dengan berbagai peran, ya ajudan, ya protokol, ya fotografer, dan tentu saja sebagai PR beliau. Otomatis dalam kunjungan singkat ini, saya ga bisa melipir kesana-sini, karena harus mengikuti jadwal beliau yang sangat ketat. 

Berangkat Ahad malam, 3 Maret, penerbangan dari Jakarta hingga Brussels, menggunakan KLM, transit 2 kali di Kuala Lumpur dan Amsterdam. Tiba di Brussels keesokan harinya pukul 10.00 pagi. Tak lama setelah check-in dan makan siang di hotel Royal Windsor Brussels, kami pun memulai agenda resmi Belgia. Kunjungan pertama ke wilayah Flanders yang berada di sebelah utara Belgia. Disana kami mengunjungi Vlaams Instituut voor Biotechnologie (VIB) di kota Ghent, didampingi Bapak Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Eropa, Belgia dan Luxembourg, Arif Havas Oegroseno. VIB adalah lembaga riset bioteknologi terkemuka yang  memiliki lebih dari 1300 peneliti yang berasal lebih dari 60 negara. Berdasarkan ranking yang dibuat oleh Scimago pada tahun 2011, VIB termasuk dalam 10 besar lembaga riset ilmu hayati terbaik di dunia, dengan menargetkan output 1 publikasi setiap hari dan 1 sarjana tingkat doctoral setiap minggunya. Produk riset yang dihasilkan langsung dilanjutkan ke tahap produksi massal, baik oleh industri start-ups yang ada di Ghent Science Technopark (STP) maupun oleh perusahaan global yang menjalin kerjasama dengan VIB, misalnya BASF, Bayer, Pfizer, Johnson&Johnson, Roche, dan lainnya.

Pada hari kedua, kami berkunjung ke Parlemen Eropa menghadiri acara Opening Plenary, EU Science : Global Challenge Global Collaboration Conference. Bapak Menteri diundang untuk menyampaikan pidato di depan peserta konferensi tersebut bersama dengan Menteri Sains Montenegro, Sanja Vlahovic; Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset Ilmiah Maroko, Lahcen Daoudi; serta Menteri Iptek Kanada, Gary Goodyear. Setelah kegiatan di Parlemen Eropa, Kami langsung bertolak ke Luxembourg. Tidak lupa kami mampir dulu ke beberapa landmark di Brussels seperti Manneken Pis dan Atomium. Perjalanan menuju Luxembourg ditempuh selama 3 jam melalui jalur darat. Di Luxembourg hanya menginap semalam dan pada hari Rabu pagi, 6 Maret kami pun bertolak kembali ke tanah air.

foto-foto bisa dicek di SINI
 
 

Wednesday, June 12, 2013
Ditulis Abu Syauqi pada pukul 7:33 AM
Sebelum e-ticketing Commuter Line diterapkan per 1 Juni 2013, saya biasanya memarkir motor di salah satu rumah warga di belakang Pasar Serpong, tepat disamping pagar Stasiun KA Serpong. Dengan begitu, saya tinggal menyusuri rel sepanjang 50 meter dan membeli tiket pada petugas di ujung peron. Ga perlu capek-capek lagi naik tangga ke stasiun Serpong dan ngantri tiket. Perjalanan jg jadi lebih singkat, hanya 10 menit dari rumah, jauh lebih cepat dibandingkan saya parkir di stasiun Serpong, karena harus melewati Pasar Serpong yang macetnya ga bisa diprediksi. Dengan adanya e-ticketing, mau ga mau saya harus kembali parkir di Stasiun Serpong.

Pada stiker sosialiasi e-ticketing yang ditempel di dalam gerbong, dijelaskan bahwa di loket pembelian tiket, penumpang tinggal menyebutkan stasiun tujuan ke petugas, dan tiket akan keluar dari dispenser. Tiket yang bentuknya seperti kartu ATM tersebut kemudian ditempelkan ke pemindai yang ada di depan gate. Bila lampu di gate sudah berwarna hijau, penumpang bisa masuk dengan mendorong barrier yang ada pada gate. Selama perjalanan, ada petugas yang akan memeriksa secara manual atau menggunakan portable scanner. Begitu tiba di stasiun tujuan, tiket dimasukkan ke dalam alat yang ada pada pintu keluar. Kalau tarif progresif sudah diterapkan, tiket akan ditolak alat tersebut bila stasiun tempat penumpang turun berbeda dengan stasiun tujuan yang disebutkan saat membeli tiket.

Namun, sampai hari ini, alur e-ticketing seperti disebutkan di atas belum 100 persen diterapkan. Kadang di stasiun tujuan, tiket diserahkan langsung kepada petugas yg berjaga di pintu keluar. Entah apakah alat e-ticketingnya lagi error atau sengaja digituin supaya penumpang tidak menumpuk dan berdesak-desakan di pintu keluar. Memang dengan sistem e-ticketing, butuh waktu yang lebih lama karena penumpang harus menunggu lampu hijau untuk bisa keluar. Bayangkan kalo di waktu yang bersamaan, ratusan penumpang buru-buru pengen keluar sementara gate yang tersedia kurang dari 5 buah. 

Sampai kemarin pun, dari stasiun Tana Abang ke stasiun Serpong, masih menggunakan tiket cetak (karcis). Entah kenapa blum menggunakan e-ticketing. Kita berdoa aja semoga sistem e-ticketing ini merupakan awal dari perbaikan pelayanan Commuter Line. Syukur-syukur bisa senyaman subway di Eropa, atau ga usah jauh-jauh deh, bisa senyaman transport publik di Malaysia dan Singapura aja udah cukup menggembirakan.


 

Monday, June 10, 2013
Ditulis abusyauqi pada pukul 8:51 AM
Kalo saya mengumumkan kalo hari ini saya baru menginjak usia 30 tahun, saya yakin banyak yg akan bereaksi seperti ini... "masa sih..?", "sumpe lo...?", "ah yang bener aja wi"... Reaksi seperti itu sudah lazim saya terima bahkan sejak usia 25 tahun. Banyak orang menyangka saya (jauh) lebih tua dari usia yg sesungguhnya. Mungkin karena perilaku saya yg dewasa? Hehehehe, katanya sih karena emang tampang saya dah terlihat tua, ada yg bilang karena saya melihara jenggot, ada yg bilang krn saya dah punya dua anak yg mulai gede. Temen saya dari Mongolia berpendapat saya nampak lebih tua karena perut saya buncit... Thanks dah... -_-" 

Tapi yg ini beneran lo, hari ini hari jadi saya yang ke-30 kalo dihitung berdasarkan kalender masehi. Kalo berdasarkan kalender hijriyah, ulang tahun saya sekitar 3 minggu lagi, tepatnya 28 Sya'ban. SMS pertama saya terima pagi ini tentu saja dari mama yg mendoakan saya menjadi lebih baik dan dan bisa dijadikan panutan dan kebanggaan. Kata mama, Umur tdk bertambah tp semakin berkurang. Mama jg berpesan agar saya berusaha menjadi yang terbaik bagi keluarga.. Makasih doanya ma, aamin allahumma aamiin. 

Harapan jangka pendek, tesis saya cepat kelar dan diet saya sukses. Kalo untuk jangka panjang, banyak banget yang saya inginkan, mulai dari menjadi expert di bidang PR, menguasai banyak bahasa asing, dan hapal Al-Qur'an (aamiin). 

Tidak ada pernah kata terlambat, man jadda wajada, man shabara zhafira, man saara 'alad darbi wasala. Aamiin.
 

Friday, May 03, 2013
Ditulis abusyauqi pada pukul 2:41 PM
Jadi ceritanya begini, awalnya tuh karena proposal tesis saya belum di ACC oleh Prof. Azhar Kasim, dosen pembimbing saya. Menurut beliau, saya musti mengganti paradigma penelitian saya menjadi positivis atau post-positivis, yg sebelumnya menggunakan pendekatan kualitatif.

Saya pun browsing sana-sini mencari karya ilmiah lain yg topiknya sama, yaitu evaluasi program sosialisasi dengan model CIPP dan menggunakan pendekatan positivis. Sebenarnya udah nemu beberapa yg topiknya sama, tapi kok ya rasanya hati nih belum sreg kalo musti pake paradigma positivis. Saya cari lagi tesis/disertasi yang menggunakan model CIPP dan akhirnya nemu berita di Antara, kalo bulan Maret kemaren, Ibu Andi Nurpati baru promosi Doktor di UNJ dengan disertasi yang mengangkat topik evaluasi program sosialisasi pemilu 2009 di KPU, dgn menggunakan model CIPP dan pembahasan yang deskriptif analitis.

Senangnya bukan kepalang, bagai musafir nemu oase di tengah sahara.. Hehehe... Tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi Ibu Andi Nurpati via sms dan twitter untuk meminta salinan disertasi beliau untuk saya jadikan tinjauan pustaka. Alhamdulillah Ibu Andi Nurpati membalas twit saya dan meminta alamat email saya. Tak lama setelah saya membalas twit ibu Andi Nurpati, beliau twit lg menginfokan kalau disertasi beliau juga bisa saya dapatkan di UPT Perpustakaan UNJ dan Perpustakaan Pasca Sarjana UNJ. Saya paham, dengan kesibukan beliau yang luar biasa padat, mungkin sulit bagi beliau untuk segera mengirimkan disertasi beliau melalui email.

Keesokan harinya alias hari ini, saya pun langsung menuju kampus UNJ. Tak lupa terlebih dahulu saya menghubungi Pak Wandi, rekan sesama peserta diklatpim tahun lalu yg bertugas sebagai Kasubbag Umum di FT UNJ, berharap bisa bersua walau sebentar demi silaturrahim. Walau masih tanggal muda, namun kantong tua, akhirnya saya milih naik bus aja, ga naik taksi atau ojek.

Pukul 09.45, dari perempatan Kebon Sirih (BI), saya naek bus Kopaja 502 tujuan Kampung Melayu dan turun di perempatan Matraman. Sebelum turun, saya nanya keneknya, kalo mo ke UNJ naek bus apa. Keneknya bilang naek Metro Mini 49 aja. Saya pun nurutin sarannya bapak kenek itu, ga lama nunggu bus 49nya datang. Agak aneh rasanya dah lama duduk tp kali ini ga ada kenek yg nagih ongkos, eh ternyata bayar ongkosnya langsung ke pak supir... Pendapatannya pasti lebih gede karena ga musti ngupah kenek.

Tapi sepertinya saya salah naek bus deh, karena bus 49 ini malah putar balik di Utan Kayu.  saya memilih turun di deket halte busway dan baru ngeh kalo dari utan kayu ke UNJ bisa naik Trans Jakarta. Dodol yak, kenapa ga naik Trans Jakarta aja dari Perempatan Matraman tadi.. Dodol deh... Ga nyampe 10 menit kemudian, saya dah tiba di kampus UNJ dengan Trans Jakarta. ada sesuatu yang menarik di halte busway, yaitu layar informasi kedatangan armada TransJakarta berikut posisi realtimenya. Namun sayangnya informasi yang muncul di layar tidak akurat, bus TJ dari arah Matraman yang katanya bakal datang semenit lagi ga nongol-nongol. Bus dari arah sebaliknya malah udah datang padahal di layar tersebut infonya baru datang 6 menit kemudian. Yah maklum aja deh....

Baru kali ini nginjak kampus UNJ, suasana di dalamnya beda ama UNHAS dan UI yang lebih luas dan banyak pohon serta ada danaunya, di kampus ini terasa lebih crowded. saya langsung menuju UPT Perpustakaan. Ruangan penyimpan disertasi ada di lantai 6, terlebih dahulu naik tangga ke lantai 2 dan dari sana menggunakan lift menuju lantai 6. Khusus untuk pengunjung non civitas akademika UNJ, wajib membayar tiga ribu rupiah, entahlah apakah pembayaran ini termasuk PNBP atau tidak, yang jelas di kwitansinya ga ada nomer seri.
Begitu tiba di lantai 6, petugas mempersilahkan saya mencari terlebih dahulu di katalog yang menggunakan program komputer. agak kagok juga karena applikasi katalognya masih menggunakan program DOS dan bener-bener mouseless hehehe... setelah dicari-cari, disertasu ibu Andi Nurpati ga nemu juga, mungkin karena masih baru, jadi belum masuk koleksi UPT Perpustakaan. Yo wes saya pun ke perpustakaan Pascasarjana UNJ untuk melanjutkan pencarian.

Sayangnya, pengunjung yang bukan anggota perpustakaan Pascasarjana tidak bisa mengakses koleksi literatur di perpustakaan tersebut. petugasnya bilang saya harus bawa surat pengantar dari kantor... eh cape deh. kalopun bisa ngakses, tuh disertasi cuman bisa saya baca di tempat, ga bisa difotocopy atau dipimnjem. petugasnya juga nginfoin kalo disertasi bu Andi Nurpati blum keindeks karena masih baru... fyuh...

Akhirnya kuputuskan pulang aja, sebelumnya mampir dulu ke FT UNJ, sayangnya pak Wandi masih rapat jadi ga sempat silaturrahim. Beliau mau bantu untuk copy-in disertasi yang saya cari kalau sudah ada di perpustakaan. tapi keknya bakal lama kalo nunggu tuh disertasi masuk perpustakaan UNJ. pukul 11.15 saya naik busway menuju Dukuh Atas, dari situ pindah koridor 1 dan turun di halte Sarinah.  Pukul 12.00 saya dah nyampe kantor dan ga telat sholat Juma'at alhamdulilah.

Jadi kesimpulannya gini, keuntungan naik public transport itu sebagai berikut :
1. Cepet : buktinya dari UNJ ke kantor cuman butuh 45 menit pake Trans Jakarta. coba kalo nyetir atau naik taksi, pasti lebih lama karena macet. seharusnya bisa lebih cepat dari 45 menit, tapi di depan Pasaraya Manggarai agak tersendat karena banyak mobil masuk ke jalur busway.
2. Murah : total ongkos yang keluar dari kantor di Thamrin menuju kampus UNJ di Rawamangun pulang pergi hanya 11 ribu rupiah. harusnya sih 9 ribu aja karena yang 2 ribu itu untuk bayar pas saya salah naik bus Metro Mini 49. coba kalo naik taksi, 11 ribu paling nyampe Tugu Tani doang. 
3. Sehat : pindah koridor busway di Dukuh Atas itu sesuatu banget, jalan dari Halte Dukuh Atas 2 ke Halte Dukuh Atas lumayan bakar kalori. tapi buat yang jarang jalan kek saya bisa pegel juga, pas naek Trans Jakarta nih betis langsung keram hehehehe
4. Nyaman : naik Trans Jakarta lumayan nyaman kalo ga terlalu padet kek tadi, alhamdulillah masih dapat duduk dan masih bisa ngetik postingan ini. sebagian besar thread ini saya ketik di BB di dalam Trans Jakarta, di perjalanan dari kampus UNJ menuju Sarinah. Yang ga nyaman ya pas naek Kopaja 502 ama Metro Mini 49 tadi, ga ada AC jadinya keringetan gimana gitu. Masalah keamanan juga blum terjamin, tahun 2010 silam BB saya pernah dicopet di Kopaja 502.

Udah dulu ah, lumayan deh ngapus kangen ngeblog... hehehe....